Sabtu, 20 November 2010

Kasih Yang Selalu Memberi II

Dia gadis yang sangat cantik, kulitnya putih dan mulus, rambut lurus panjang sebahu, lesung pipi yang dimilikinya menambah keanggunan dirinya. Dia seorang sarjana ekonomi dengan nilai kelulusan sangat memuaskan. Setiap tahunnya dia meraih beasiswa. Dia adalah Ling Ling, anak semata wayang, ayahnya bernamu Ahu dan Ibunya bernama Xia. Mereka tinggal di kota kecil di propinsi QuangXi. Kehidupan keluarga mereka cukup sederhana. Ayah dan ibu hanya penjual mie. Selesai diwisuda Ling Ling membantu ayah dan ibunya berjualan mie sembari menunggu ijazahnya keluar.

Suatu hari Ling Ling mendengar informasi bahwa sebuah sekolah di desa membutuhkan jasa seorang guru, Ling Ling langsung dengan sukarela mendaftar menjadi seorang guru dengan imbalan yang sangat kecil. Mendengar hal tersebut ayah dan ibunya melarang Ling Ling karena Ayah dan ibu Ling Ling berkeinginan anak gadisnya itu menjadi orang yang sukses, bekerja di kantoran di kota besar, mendapat gaji tinggi sehingga dapat menopang kehidupan ekonomi keluarga. Karena kekerasan hati Ling Ling untuk menjadi seorang guru, dia sering mendapat hukuman dari kedua orang tuanya.

Saat hari pertama Ling Ling masuk ke sekolah menjadi seorang guru, setiap murid kaget dan terpukau akan kecantikan guru baru mereka. Sejak saat itu kelas selalu menjadi penuh dengan canda tawa setiap murid. Hari demi hari semenjak kedatangan Ling Ling di sekolah tersebut murid menjadi bertambah banyak. Sekolah mereka lebih layak disebut sebagai tempat penampungan anak-anak terlantar dari pada sekolah yang normal. Dalam kondisi kelas yang sekarat, Ling Ling tetap bersemangat mengajarkan ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya. Ling Ling menjalaninya dengan bahagia walau kadang kala gaji yang diterimanya telat.

Suatu hari badai besar menghancurkan kelas mereka, namun kegiatan belajar mengajar tetap berjalan walaupun hanya di tempat terbuka. Kepala sekolah datang ke kota untuk merundingkan hal tersebut dengan pemerintah yang mengurus bagian pendidikan agar memberikan sumbangan uang untuk membetulkan sekolah mereka yang rusak, akan tetapi kepala sekolah kembali dengan tangan kosong. Kepala sekolah mengatakan kepada Ling Ling bahwa walikota akan memberikan uang kalau hanya Ling Ling yang datang kepada dia dan meminta uang kepadanya. Tanpa rasa curiga Ling Ling memutuskan untuk menjumpai walikota tersebut demi murid-murid yang dicintainya.

Ling Ling bergegas balik ke rumah tuk permisi kepada orang tuanya. Keesok harinya Ling Ling pun berangkat ke kota tuk menemui sang walikota. Setibanya di kantor walikota, sang walikota menyambut kedatangan Ling Ling dengan sepasang mata yang haus. Ling Ling diajak masuk ke ruang kerja sang walikota yang luas dan mewah. Dia dipersilahkan duduk di kursi yang sangat empuk. Sambil mununjuk ke sebuah ruangan dan mengatakan “Uang kamu ada di kamar tersebut, kalau kamu mau, kamu ikuti aku masuk ke kamar itu” Ling Ling melihat sebuah ruangan dengan ranjang yang besar, ruangan tersebut masih satu ruangan dengan ruang kerja sang walikota. Awalnya Ling Ling menolak, akan tetapi dia teringat akan murid-muridnya yang butuh kelas untuk belajar. Ranjang di kamar itu menjadi saksi hilangnya keperawanan Ling Ling. Darah segar dari keperawannannya lebih merah dari pada warna bendera national China. Ling Ling tidak menangis sedikitpun, yang ada di benaknya adalah berpuluh-puluh mata murid muridnya yang akan kecewa kalau tidak ada kelas buat mereka belajar.

Setelah itu Ling Ling bergegas balik, dia tidak memberi tahu kepada seorang pun tentang kejadian tersebut. Hari berikutnya, masyarakat desa secara bergotongroyong membetulkan kondisi kelas dengan biaya yang diberikan sang walikota. Akan tetapi kala ada hujan yang deras, kelas tersebut tetap tidak bisa di gunakan. Ling Ling mengatakan kepada murid muridnya bahwa walikota akan membangun sebuah sekolah yang bagus buat mereka.

Dalam kurang lebih 6 bulan bantuan yang dijanjikan sang walikota tuk membangun sekolah yang bagus tak kunjung terealisasi. Jumlah muridnya berkurang dari hari ke hari. Ling Ling sangat sedih akan kondisi seperti itu. Ketika Ling Ling mengetahui bahwa harapan murid-muridnya telah hilang bagaikan asap. Dia lalu masuk ke kamar dan membuka bajunya, dia melihat tubuh telanjangnya di depan cermin. Ling Ling bersumpah akan memakai tubuhnya yang indah itu untuk mewujudkan impian dari murid-muridnya untuk bisa kembali sekolah. Ling Ling tahu semua gadis dari desa itu bekerja sebagai pelacur di kota untuk mencari uang dan itu cara yang gampang untuk dia untuk mendapatkan uang.

Dia mengikat rambutnya dengan kuncir dua dan berjalan menuju kota. Ketika dia berangkat ke kota, ayah dan ibunya tersenyum bangga dengan harapan anak gadisnya kelak memdapat pekerjaan yang lebih layak. Akan tetapi kepala sekolah menangis sedih akan pilihan yang Ling Ling lakukan. Di kota besar Ling Ling menjadi istri simpanan pengusaha dan pelacur di hotel.

Ling Ling mengirimkan semua uang penghasilannya kepada kepala sekolah dengan mengirit-irit biaya untuk hidupnya, dengan harapan bisa mengirim lebih banyak lagi ke kepala sekolah. Sang kepala sekolah menerima uang tersebut dan menggunakannya untuk membangun sekolah. Ketika setiap orang yang menanyakan sumber uang tersebut, sang kepala sekolah hanya menjawab bahwa didapat dari donasi organisasi sosial.

Dengan uang hasil dari istri simpanan dan melacur, sekolah telah berubah drastis. Bulan pertama kelas tidak bocor lagi kala hujan datang dan tidak kepanasan kala matahari terik, bulan kedua ada papan tulis baru, bulan ketiga ada bangku dan meja kayu yang kuat, bulan keempat setiap murid mempunyai buku pelajaran, bulan kelima setiap murid mempunyai seragam, bulan keenam setiap murid datang ke sekolah dengan memakai sepatu.

Bulan ketujuh Ling Ling kembali mengunjungi sekolah, Ling Ling disambut dengan gembira dan para murid-muridnya menyapa ”Guru, kamu telah kembali, kamu cantik sekali guru.” Melihat kegembiraan dari para murid-muridnya, Ling Ling tidak kuasa untuk menahan menangis, tidak peduli berapa banyak air mata yang diteteskan dan berapa banyak derita yang dialami, keluh kesah dan kisah sedih yang dia lalui dalam 6 bulan menjadi istri simpanan dan pelacur. Ling Ling merasakan semua kisah sedih dan penderitannya itu sangat seimbang dan pantas untuk harga yang dia bayar untuk melihat apa yang Ling Ling lihat saat ini. Setelah beberapa hari bersama anak muridnya, Ling Ling kembali lagi ke kota tuk menjadi istri simpanan dan pelacur. Pada bulan ketujuh sekolah telah mempunyai ruang perpustakaan dengan buku pelajaran yang cukup lengkap, pada bulan kedelapan sekolah telah mempunyai ruang praktikum, pada bulan kesembilan sekolah telah mempunyai lapangan bermain yang baru, pada bulan kesepuluh sekolah telah mempunyai bendera nasional sendiri sehingga setiap hari murid bisa menaikan bendera setiap hari di sekolah.

Hingga suatu waktu Ling Ling menderita penyakit yang sangat mengerikan yaitu AIDS. Ling Ling pun meninggal tanpa mencapai keinginan yang terakhir yaitu untuk membangun satu kelas bagus dengan 2 komputer yang bisa digunakan oleh murid muridnya.

Saat itu langit kota berwarna hitam, rintik-rintik air hujan membasahi bumi. Para murid, guru dan beberapa ratus penduduk desa menghadiri acara pemakaman Ling Ling di desa kecil di kaki gunung “Qin Ling” Pada saat itu, semua hanya bisa melihat foto hitam putih Ling Ling, dalam foto itu Ling Ling mengikat rambutnya menjadi dua dengan senyuman bahagia. Kepala sekolah membuka diary Ling Ling dan membacakannya di depan para pelayat. “Sekali melacur, satu anak bisa sekolah. Sekali menjadi wanita simpanan bisa membangun sebuah sekolah yang telah hilang harapan.” Mendengar itu berjuta air mata membasahi tubuh Ling Ling yang telah kaku di dalam peti. Bendera setengah tiangpun dikibarkan. Ling Ling dikebumikan di lokasi sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar