Minggu, 19 Desember 2010

cinta mati

Kita lawan bersama panas dan dinginnya dunia
Disaat arah kaki tak terarah kita saling menuntun
Disaat kaki lemah tuk berpijak kita saling menopang
Disaat dingin menyerang kita saling menghangatkan
Disaat panas membakar tubuh kita saling melindungi
Bergandengan tangan dan tak terlepas
Kita gapai mimpi-mimpi
Hingga di suatu pagi yang gelap dan dingin
Diantara kita pergi menghadap Sang Pencipta
Namu aku, kau tetap satu hati hingga keabadian

Sabtu, 20 November 2010

Sepi Tiada Akhir

Bintang dan bulan menghiasi malam
Mentari temani siang
Selalu setia terbit dan tenggelam untuk mewarnai dunia

Namun hari-hari yang ku lalui selalu sepi
Tiada seorang pun yang dapat mengeluarkan ku dari belenggu sepi

Dalam lamunan dan renungan ku
Berjuta tanya terlontar dalam otak ku
Apakah ku tak boleh mengenal cinta?
Apakah aku tak boleh merasakan kasih sayang?
Apakah aku tak pantas untuk gembira?

Apakah keceriaan itu tidak lagi untuk ku?
Haruskah aku hidup sepi?
aaahhhh....
Tak satupun terjawab

Kesepian adalah suatu yang menyakitkan
Kesepian ini sangat menyiksa bathin
Tiada yang dapat mengusir kesepian ini

Tuhan kirimkan aku bidadari surga_Mu
Untuk dapat menemani setiap langkah ku
Agar kesepian ini dapat berakhir
Dan keceriaan selalu menghampiri ku

Gerimis Malam

Senja datang tuk sambut indahnya sang bulan.
Namun gerimis malam menghalang cahayanya.

Angin bertiup pelan bisikan berjuta kata - kata cinta.
Suara suara alam bicara tentang hati yang terluka.

Gerimis malam...
Hiburlah diri ku dengan melodi rintikan mu.
Gerimis malam...
Siram jiwa ini yang kering dan terluka.
gerimis malam...
basahi jiwa ini yang beku dengan hangat kasih mu.

Tak satu pun teman tuk diajak bicara.
Aku sepi dalam kesesakan.

Ku kan coba tuk tetap kuat dan tegar.
Akan aku akhiri rasa gelisah ini.
Harus ku buang semua kisah pedih ku.
Karena kau bukan untuk ku dan aku yakin itu.

Esok akan ku sambut indahnya cahaya pagi dengan senyum manisku.

hati_Mu yang penuh kasih, ku merindukan uluran tangan kasih_Mu

Hidup ku jalani dengan tertatih-tatih
Berat kakiku menapak hidup ini
Semakin berat langkah ku karena dosa-dosaku
Ku menundukkan kepala dan bersuara lirih
Kupanggil nama_Mu dalam hati

Tuhan...
Ku tahu bahwa Kau adalah Tuhan yang penuh Kasih
Kau mati bagiku untuk menebus dosa-dosaku
Namun bagiku Kau tidaklah mati
Karena aku tak layak mendapatkan pengorbanan_MU itu
Aku yang tidak setia dan pergi menjauh dari_Mu
Aku kotor dan berlumur dosa
Hatiku kering bagai di tengah padang gurun

Tuhan ku...
Jadikan aku manusia baru yang bebas dari dosa
Jadikan aku seperti yang Kau ingini

Aku bersyukur kepada_Mu atas kurban Darah_Mu
Kudus tercurah bagiku

Terima kasih Tuhan, Engkau telah memulihkan ku dengan Kasih dan Kuasa_Mu yang ajaib

Kasih Yang Selalu Memberi I

Di kota kecil Negara Malaysia tepatnya di kota Kucing, hidup sebuah keluarga dengan keadaan ekonomi yang sangat pas-pasan. Keluarga tersebut tinggal di rumah kontrakan yang sangat kumuh di pinggiran kota dengan ukuran 3 X 4 meter. Si suami bekerja sebagai buruh bangunan, sedangkan si istri bekerja sebagai pencuci pakaian di rumah orang kaya di kota itu. Mereka dikaruniai dua orang anak, anak pertama adalah laki-laki, duduk di bangku kelas enam Sekolah Dasar (SD), sedangkan anak kedua adalah perempuan, masih balita.

Suatu hari si istri jatuh sakit, oleh karena keterbatasan biaya si istri hanya dirawat di rumah dengan pengobatan yang seadanya. Kehidupan keluarga tersebut semakin hari semakin memprihatinkan karena pendapatan keluarga telah berkurang karena si istri tidak bekerja lagi karena sakit. Keluarga tersebut makan seadanya saja. Untuk menopang perekonomian keluarga si anak lelaki itu turun ke jalan menjual asongan selepas pulang sekolah.

Cuaca pada siang itu sangatlah panas membuat anak lelaki itu lapar dan haus. Dia memutuskan uang hasil jualannya dibeli makanan dan minuman. Namun tiba-tiba dia teringat akan ibunya yang sangat membutuhkan uang tersebut tuk membeli obat. Anak laki-laki itupun mengurungkan niatnya. Diperjalanan pulang anak itu meminta makanan dan minuman pada rumah yang dia lewati. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda dan cantik membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air tuk menghilangkan rasa haus yang telah menyekik kerongkongannya. Wanita muda tersebut melihat dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas susu dan sepotong roti tawar. Akan tetapi anak itu tak berani mengambilnya, anak itu hanya diam dan menundukkan kepala. Wanita muda itu heran, lalu berkata : “ada apa denganmu adik? Ambilah, kamu pasti lapar dan haus.” Lalu anak lelaki itu menjawab : “saya tidak punya uang untuk membayar segelas susu dan sepotong roti itu. Adapun uang hasil jualan saya ini akan saya gunakan untuk beli obat ibu.” Kamu tidak perlu membayar apapun. Orang tua saya mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan, jawab wanita muda itu. Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susu dan roti tawar tersebut dan berkata : "Dari dalam hatiku yang paling dalam, aku berterima kasih pada kakak, kiranya Tuhan memberkati kakak dan seisi rumah ini." Wanita muda itu menjawabnya dengan senyuman. Setelah selesai anak itu menghabiskan segelas dan sepotong roti tawar yang diberi wanita muda itu, dia pun pergi tuk pulang, namun tiba-tiba wanita muda itu memanggilnya, “adik, terimalah uang ini, gunakan tuk beli obat ibumu, semoga ibumu cepat sembuh.” Anak lelaki itupun memangambil uang tersebut dan pergi meninggalkan wanita itu.

20 tahun kemudian, wanita tersebut mengalami sakit yang sangat sangat langkah. Para dokter di kota itu sudah tidak sanggup menanganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar yaitu Penang, dimana terdapat dokter spesialis yang masih muda dan kaya namun mampu menangani penyakit langka tersebut, dokter tersebut bernama Dr. Yohanes Elly. Dokter tersebut dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat dokter tersebut membaca nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata Dr. Yohanes Elly. Dokter tersebut teringat akan wanita muda yang pernah menolong dia. Segera dokter tersebut bergegas pergi menuju kamar si wanita tersebut menemui si wanita itu. Dokter tersebut langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Dokter tersebut kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Dr. Yohanes Elly selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu. Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan yang luar biasa, wanita itu sembuh total dan wanita itu dapat segera pulang. Dr. Yohanes Elly pergi ke bagian keuangan rumah sakit, dia meminta seluruh tagihan biaya pengobatan wanita itu. Dr. Yohanes Elly melihatnya dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan.

Oleh karena wanita itu merasa sudah sembuh dan pihak rumah sakit menyarankan dia tuk pulang maka wanita itu beres beres tuk segerah pulang tuk berkumpul bersama keluarganya kembali. Setelah selesai beres-beres wanita itu menuju bagian keuangan tuk membayar tagihan. Pegawai bagian keuangan memberikan amplop yang berisi tagihan. Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa tagihannya sangatlah besar dan ia merasa tak akan mampu membayarnya. Akhirnya wanita itu memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok kanan atas lembar tagihan tersebut. Wanita itu membaca tulisan tersebut dalam hati :


"Telah Dibayar Lunas Dengan Segelas Susu Dan Sepotong Roti Tawar"

Tertanda,



Dr. Yohanes Elly

Air mata kebahagiaan membanjiri mata wanita itu. Lalu wanita itu berdoa dalam hati : "Tuhan, terima kasih bahwa cinta_Mu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia. Kiranya diberkatilah Dr. Yohanes Elly dan keluarganya."

Kasih Yang Selalu Memberi II

Dia gadis yang sangat cantik, kulitnya putih dan mulus, rambut lurus panjang sebahu, lesung pipi yang dimilikinya menambah keanggunan dirinya. Dia seorang sarjana ekonomi dengan nilai kelulusan sangat memuaskan. Setiap tahunnya dia meraih beasiswa. Dia adalah Ling Ling, anak semata wayang, ayahnya bernamu Ahu dan Ibunya bernama Xia. Mereka tinggal di kota kecil di propinsi QuangXi. Kehidupan keluarga mereka cukup sederhana. Ayah dan ibu hanya penjual mie. Selesai diwisuda Ling Ling membantu ayah dan ibunya berjualan mie sembari menunggu ijazahnya keluar.

Suatu hari Ling Ling mendengar informasi bahwa sebuah sekolah di desa membutuhkan jasa seorang guru, Ling Ling langsung dengan sukarela mendaftar menjadi seorang guru dengan imbalan yang sangat kecil. Mendengar hal tersebut ayah dan ibunya melarang Ling Ling karena Ayah dan ibu Ling Ling berkeinginan anak gadisnya itu menjadi orang yang sukses, bekerja di kantoran di kota besar, mendapat gaji tinggi sehingga dapat menopang kehidupan ekonomi keluarga. Karena kekerasan hati Ling Ling untuk menjadi seorang guru, dia sering mendapat hukuman dari kedua orang tuanya.

Saat hari pertama Ling Ling masuk ke sekolah menjadi seorang guru, setiap murid kaget dan terpukau akan kecantikan guru baru mereka. Sejak saat itu kelas selalu menjadi penuh dengan canda tawa setiap murid. Hari demi hari semenjak kedatangan Ling Ling di sekolah tersebut murid menjadi bertambah banyak. Sekolah mereka lebih layak disebut sebagai tempat penampungan anak-anak terlantar dari pada sekolah yang normal. Dalam kondisi kelas yang sekarat, Ling Ling tetap bersemangat mengajarkan ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya. Ling Ling menjalaninya dengan bahagia walau kadang kala gaji yang diterimanya telat.

Suatu hari badai besar menghancurkan kelas mereka, namun kegiatan belajar mengajar tetap berjalan walaupun hanya di tempat terbuka. Kepala sekolah datang ke kota untuk merundingkan hal tersebut dengan pemerintah yang mengurus bagian pendidikan agar memberikan sumbangan uang untuk membetulkan sekolah mereka yang rusak, akan tetapi kepala sekolah kembali dengan tangan kosong. Kepala sekolah mengatakan kepada Ling Ling bahwa walikota akan memberikan uang kalau hanya Ling Ling yang datang kepada dia dan meminta uang kepadanya. Tanpa rasa curiga Ling Ling memutuskan untuk menjumpai walikota tersebut demi murid-murid yang dicintainya.

Ling Ling bergegas balik ke rumah tuk permisi kepada orang tuanya. Keesok harinya Ling Ling pun berangkat ke kota tuk menemui sang walikota. Setibanya di kantor walikota, sang walikota menyambut kedatangan Ling Ling dengan sepasang mata yang haus. Ling Ling diajak masuk ke ruang kerja sang walikota yang luas dan mewah. Dia dipersilahkan duduk di kursi yang sangat empuk. Sambil mununjuk ke sebuah ruangan dan mengatakan “Uang kamu ada di kamar tersebut, kalau kamu mau, kamu ikuti aku masuk ke kamar itu” Ling Ling melihat sebuah ruangan dengan ranjang yang besar, ruangan tersebut masih satu ruangan dengan ruang kerja sang walikota. Awalnya Ling Ling menolak, akan tetapi dia teringat akan murid-muridnya yang butuh kelas untuk belajar. Ranjang di kamar itu menjadi saksi hilangnya keperawanan Ling Ling. Darah segar dari keperawannannya lebih merah dari pada warna bendera national China. Ling Ling tidak menangis sedikitpun, yang ada di benaknya adalah berpuluh-puluh mata murid muridnya yang akan kecewa kalau tidak ada kelas buat mereka belajar.

Setelah itu Ling Ling bergegas balik, dia tidak memberi tahu kepada seorang pun tentang kejadian tersebut. Hari berikutnya, masyarakat desa secara bergotongroyong membetulkan kondisi kelas dengan biaya yang diberikan sang walikota. Akan tetapi kala ada hujan yang deras, kelas tersebut tetap tidak bisa di gunakan. Ling Ling mengatakan kepada murid muridnya bahwa walikota akan membangun sebuah sekolah yang bagus buat mereka.

Dalam kurang lebih 6 bulan bantuan yang dijanjikan sang walikota tuk membangun sekolah yang bagus tak kunjung terealisasi. Jumlah muridnya berkurang dari hari ke hari. Ling Ling sangat sedih akan kondisi seperti itu. Ketika Ling Ling mengetahui bahwa harapan murid-muridnya telah hilang bagaikan asap. Dia lalu masuk ke kamar dan membuka bajunya, dia melihat tubuh telanjangnya di depan cermin. Ling Ling bersumpah akan memakai tubuhnya yang indah itu untuk mewujudkan impian dari murid-muridnya untuk bisa kembali sekolah. Ling Ling tahu semua gadis dari desa itu bekerja sebagai pelacur di kota untuk mencari uang dan itu cara yang gampang untuk dia untuk mendapatkan uang.

Dia mengikat rambutnya dengan kuncir dua dan berjalan menuju kota. Ketika dia berangkat ke kota, ayah dan ibunya tersenyum bangga dengan harapan anak gadisnya kelak memdapat pekerjaan yang lebih layak. Akan tetapi kepala sekolah menangis sedih akan pilihan yang Ling Ling lakukan. Di kota besar Ling Ling menjadi istri simpanan pengusaha dan pelacur di hotel.

Ling Ling mengirimkan semua uang penghasilannya kepada kepala sekolah dengan mengirit-irit biaya untuk hidupnya, dengan harapan bisa mengirim lebih banyak lagi ke kepala sekolah. Sang kepala sekolah menerima uang tersebut dan menggunakannya untuk membangun sekolah. Ketika setiap orang yang menanyakan sumber uang tersebut, sang kepala sekolah hanya menjawab bahwa didapat dari donasi organisasi sosial.

Dengan uang hasil dari istri simpanan dan melacur, sekolah telah berubah drastis. Bulan pertama kelas tidak bocor lagi kala hujan datang dan tidak kepanasan kala matahari terik, bulan kedua ada papan tulis baru, bulan ketiga ada bangku dan meja kayu yang kuat, bulan keempat setiap murid mempunyai buku pelajaran, bulan kelima setiap murid mempunyai seragam, bulan keenam setiap murid datang ke sekolah dengan memakai sepatu.

Bulan ketujuh Ling Ling kembali mengunjungi sekolah, Ling Ling disambut dengan gembira dan para murid-muridnya menyapa ”Guru, kamu telah kembali, kamu cantik sekali guru.” Melihat kegembiraan dari para murid-muridnya, Ling Ling tidak kuasa untuk menahan menangis, tidak peduli berapa banyak air mata yang diteteskan dan berapa banyak derita yang dialami, keluh kesah dan kisah sedih yang dia lalui dalam 6 bulan menjadi istri simpanan dan pelacur. Ling Ling merasakan semua kisah sedih dan penderitannya itu sangat seimbang dan pantas untuk harga yang dia bayar untuk melihat apa yang Ling Ling lihat saat ini. Setelah beberapa hari bersama anak muridnya, Ling Ling kembali lagi ke kota tuk menjadi istri simpanan dan pelacur. Pada bulan ketujuh sekolah telah mempunyai ruang perpustakaan dengan buku pelajaran yang cukup lengkap, pada bulan kedelapan sekolah telah mempunyai ruang praktikum, pada bulan kesembilan sekolah telah mempunyai lapangan bermain yang baru, pada bulan kesepuluh sekolah telah mempunyai bendera nasional sendiri sehingga setiap hari murid bisa menaikan bendera setiap hari di sekolah.

Hingga suatu waktu Ling Ling menderita penyakit yang sangat mengerikan yaitu AIDS. Ling Ling pun meninggal tanpa mencapai keinginan yang terakhir yaitu untuk membangun satu kelas bagus dengan 2 komputer yang bisa digunakan oleh murid muridnya.

Saat itu langit kota berwarna hitam, rintik-rintik air hujan membasahi bumi. Para murid, guru dan beberapa ratus penduduk desa menghadiri acara pemakaman Ling Ling di desa kecil di kaki gunung “Qin Ling” Pada saat itu, semua hanya bisa melihat foto hitam putih Ling Ling, dalam foto itu Ling Ling mengikat rambutnya menjadi dua dengan senyuman bahagia. Kepala sekolah membuka diary Ling Ling dan membacakannya di depan para pelayat. “Sekali melacur, satu anak bisa sekolah. Sekali menjadi wanita simpanan bisa membangun sebuah sekolah yang telah hilang harapan.” Mendengar itu berjuta air mata membasahi tubuh Ling Ling yang telah kaku di dalam peti. Bendera setengah tiangpun dikibarkan. Ling Ling dikebumikan di lokasi sekolah.

Minggu, 14 November 2010

Sakitnya Hati Namun Aku Rindu (Mempawah, Kalimantan Barat, 22 Maret 2010, By Faifson Siagian)


Cahayanya telah sirna namun biasnya tetap membekas dalam relung hati
Aku tetap terpuruk dalam rapuhnya jiwa
Hatiku,,, Jiwaku,,, pikiranku hancur luluh lanta
Begitu juga dengan tubuhku remuk lemah tak berdaya
Aku hanya bisa tertunduk diam renungkan semuanya
Sesekali air mata ini temani pahitnya hati yang tak kunjung hilang

Sedih jiwaku begitu terasa
Jasadku berada pada tempat yang tepat
Mengungkapkan dan menunjukan tentang apa yang dirasa hati dan jiwaku
Lingkungan dunia dimana aku tinggal ku sadari sama sekali tidak mengerti
Semua penuh dengan kemunafikan dan kebohongan
Ada yang marah, ada yang tertawa dan ada yang bersedih
Aku tak mengerti apa yang ada dibenak mereka
Lama jiwaku tenggelam dalam diam

Ku berdiri sepi tatap kosong ke awan gelap
Hembuskan nafas kencang tuk hilangkan lamunan sepi
Desah angin malam dendangkan suara nyanyian kesedihan hati
Ku berkata dalam hati, akan ku lupakan semua dan hentikan sandiwara cinta!

Sunyinya malam yang kian larut sunyi menambah kegelisahan
Sesak nafasku menahan luka hati
Nafas cinta… Nafas rindu… Nafas  terluka…

Keinginanku tinggi dan indah bagaikan bintag di langit hitam
Sinarnya dapat menerangi gelapnya malam ini
Selalu ku gapai hingga ku paksakan diri
Setengah terluka mengharap cintamu lagi
Aku terjatuh pada titik terendah
Semua telah sia-sia dan tak berarti

Aku cinta kamu… Aku sayang kamu…
Namun di hatimu tak ada lagi secuil cinta untukku
Aku rela… Biarlah…
Akan ku simpan dalam hati rasa ini

Aku akan selalu bernyanyi dan menari walau hati ini bersedih
Akan ku paksa tuk tetap tersenyum hingga pagi menyongsong

Hujan Malam (By : Faifson Ellyantha Cyandya Siagian)

Hujan malam, ku sadari semua telah menghilang
Separuh jiwaku terkubur

Hujan malam, kau tak disisiku lagi
Terasa jiwaku hampa dan kering

Hati ini akan selalu menunggumu, dan tetap menunggumu
Karena kau adalah cinta sejatiku
Kau tercipta hanya untukku
Dan aku yakin itu

Hujan malam, ku menangis karena kau telah pergi
Dengarkanlah sesak di jiwa

Hujan malam, ku terluka karena kau telah menjauh
Kebisuan air mata lihat bayang semu

Hatiku ini akan selalu menunggumu, dan tetap menunggumu
Karena kau adalah cinta sejatiku
Kau tercipta hanya untukku
Dan aku yakin itu

Hidup Untuk Apa, Mati Bukan Untuk Apa – Apa (Gunung Bayu 07 July 2010, By : Faifson Ellyantha Cyandya siagian)


 Aku hancur hingga tak sanggup lagi aku menatap jalanku
Tersandung kerikil-kerikil mimpi
Tersungkur di atas batu-batu harapan
Terkubur di dalam penantian
Aku mati ... Dan aku mati

Aku hanya bisa diam dan ratapi
Saat kusaksikan satu demi satu runtuh dari dalam hidupku
Kini aku hanya bagai seekor anjing yang menjilat luka pengemis
Aku yang tak punya arti
Bagiku … Bagimu … Bagi keluarga dan bagi Tuhan_ku

Aku hanya menunggu murkah dari Tuhan
Menghadapi penderitaan yang tidak pernah diderita manusia
Bola-bola api dari surga turun menghantam tubuhku
Pedang bermata dua menusuk lambungku
Aku mati … Dan aku mati …

Gerimis Malam (By : Faifson Ellyantha Cyandya siagian)


Senja datang janjikan indahnya bulan dan bintang
Namun rintik-rintik hujan menghalang
Angin bertiup pelan bisikan kata-kata cinta yang terluka

Gerimis malam…
Aku sepi dan gundah
Tak satupun teman tuk diajak bicara
Hiburlah diriku dengan melodi rintikmu




Gerimis malam …
Basahi jiwa ini yang kering
Tak satupun teman tuk diajak bicara
Segarkan hati dari pahitnya cinta

Bertanya (Pantai Kijing-Kalbar, By : Faifson Ellyantha Cyandya siagian)


Putaran jarum jam telah menuju ke angka 5 (lima)
Matahari pun mulai memerah tak berdaya
Senja datang tuk sambut sang malam
Yang dihiasi indahnya cahaya bulan dan gemerlapnya cahaya bintang

Ku duduk sepi di batu karang yang tak begitu besar
Kaki ku menari-nari bersama ombak-ombak kecil
Ku layangkan tatapan jauh
Khayalkan hari kemarin, sekarang dan esok

Mmmm …
Matahari senja yang indah
Laut dengan nyanyian ombak yang indah
Desiran angin yang merdu
Burung camar terbang di deruhnya angin,
Bernyanyi sambut indahnya malam
Namun semua itu tak ada arti

Alam mulai mengusik kesendirianku
Aku tersentak dan tersadar dari khayalku
Matahari hilang menggelapkan pandanganku
Angin membekukan hatiku
Air membasahi tubuhku
Burung camar dan ombak menghapus sunyiku
Seperti ada sesuatu yang hendak dibisikan
Namun ku tak mengerti makna

Ku coba bertanya pada bulan dan bintang
Namun mereka hanya diam membisu
Hanya ikan-ikan kecil di tepian menari dan tertawa

Aku berpikir dalam dan coba bertanya pada diri
Kenapa ku dilahirkan tanpa makna dan arti?
Haruskah aku sesali dan haruskah aku tangisi?

Aaarrrhhhggg …
Ku robek dada ini tuk remukkan hati
Ku pecahkan kepala ini tuk hancurkan pikiran
Ku hempaskan tubuh ini ke lubang kotoran
Ku selimuti diri ini dengan berjuta kata caci maki dan sumpah serapah

Tuhan ku …
Hanya pada_Mu tempat ku mengadu
Hanya pada_Mu tempat ku meminta
Aku tak inginkan indahnya cahaya bulan itu
Aku tak inginkan gemerlapnya cahaya bintang itu
Namun berikanlah aku satu lilin kecil
Yang cahayanya dapat menghantarkan ku ke indahnya mentari pagi