Jumat, 05 Agustus 2011

Kasih Yang Selalu Memberi IV

Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.

Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.

Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.

Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:

" Maaf, nona … Apakah anda sedang menunggu seseorang? "

" Tidak! " Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.

" Lantas untuk apa anda duduk di sini?"

" Apakah tidak boleh? " Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam..

" Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami."

" Maksud, bapak? "

" Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini "

" Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual " Kata wanita itu dengan suara lambat.

" Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini? "

Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.

" Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti. "

" Saya ingin menjual diri saya, " Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

" Mari ikut saya, " Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.

Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum di wajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.

Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.

" Apakah anda serius? "

" Saya serius " Jawab wanita itu tegas.

" Berapa tarif yang anda minta? "

" Setinggi-tingginya. .' '

" Mengapa?" Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.

" Saya masih perawan "

" Perawan? " Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini..

Pikirnya

" Bagaimana saya tahu anda masih perawan?"

" Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan.. Ya kan …"

" Kalau tidak terbukti? "

" Tidak usah bayar …"

" Baiklah …" Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.

" Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda. "

" Cobalah. "

" Berapa tarif yang diminta? "

" Setinggi-tingginya. "

" Berapa? "

" Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa? "

" Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya. "

Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.

Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.

" Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana? "

" Tidak adakah yang lebih tinggi? "

" Ini termasuk yang tertinggi, " Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.

" Saya ingin yang lebih tinggi…"

" Baiklah. Tunggu disini …" Petugas satpam itu berlalu.

Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.

" Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana? "

" Tidak adakah yang lebih tinggi? "

" Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap
saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh … "

" Saya ingin tawaran tertinggi … " Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.

" Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit.
Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. " Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.

Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.

Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.

" Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? " Kata petugas satpam itu dengan sopan.

Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu …

" Berapa? " Tanya pria itu kepada Wanita itu.

" Setinggi-tingginya " Jawab wanita itu dengan tegas.

" Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? " Kata pria itu kepada sang petugas satpam.

" Rp.. 6 juta, tuan "

" Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. "

Wanita itu terdiam.

Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.

" Bagaimana? " tanya pria itu.

"Saya ingin lebih tinggi lagi …" Kata wanita itu.

Petugas satpam itu tersenyum kecut.

" Bawa pergi wanita ini. " Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.

" Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual? "

" Tentu! "

" Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu … "

" Saya minta yang lebih tinggi lagi …"

Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang.

Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.

" Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya. "

Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.

" Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah.

Apakah itu tidak cukup? " Terdengar suara pria itu berbicara.

Wajah pria itu nampak masam seketika

" Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu.

Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! "

Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita.

Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah pria itu.

Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: " Pak, apakah anda butuh wanita … Huh "

Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.

" Ada wanita yang duduk disana, " Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.

Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.

"Dia masih perawan.."

Pria itu mendekati petugas satpam itu.

Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. " Benarkah itu? "

" Benar, pak. "

" Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu … "

" Dengan senang hati. Tapi, pak …Wanita itu minta harga setinggi tingginya."

" Saya tidak peduli … " Pria itu menjawab dengan tegas.

Pria itu menyalami hangat wanita itu.

" Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah …." Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.

" Mari kita bicara di kamar saja." Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu.

Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.

Di dalam kamar …

" Beritahu berapa harga yang kamu minta? "

" Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit "

" Maksud kamu? "

" Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih …. "

" Hanya itu …"

" Ya …! "

Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.

" Siapa nama kamu? "

" Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar … " Kata wanita itu

" Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. "

"Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! "

" Ada ! " Kata pria itu seketika.

" Sebutkan! "

" Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit.

Dan sekarang pulanglah … " Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.

" Saya tidak mengerti …"

" Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar …"

" Dan, apakah bapak ikhlas…? "

" Apakah uang itu kurang? "

" Lebih dari cukup, pak … "

" Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? "

" Silahkan …"

" Mengapa kamu begitu beraninya … "

" Siapa bilang saya berani. Saya takut pak …
Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal.
Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu.
Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` … Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan … "

" Keyakinan apa? "

" Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita … " Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar.

Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:

" Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini … "

" Kesadaran… "

.. . .

Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.

" Kamu sudah pulang, nak "

" Ya, bu … "

" Kemana saja kamu, nak … Huh"

" Menjual sesuatu, bu … "

" Apa yang kamu jual?" Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum …

Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang
gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan
….

" Kini saatnya ibu untuk berobat … "

Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: " Tuhan telah membeli yang saya jual… ".

Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata
kepada supir taksi: " Antar kami kerumah sakit …"






dia (papa) telah tiada namun semangatnya menyala di dada. dia (papa) telah pergi namun mimpi-mimpinya selalu menyertai. bersama embun fajar kemarau ku sertakan doa semoga dia (papa) mendapatkan tempat terbaik di sisi_Nya. "turut berduka cita"

Sabtu, 01 Januari 2011

Kasih Yang Selalu Memberi III

Seorang anak kira-kira berumur 7 tahun, selepas pulang sekolah mendapati Ibunya yang lagi sibuk memasak di dapur sembari menjaga anak bayi. Si anak kecil tersebut merasa ibah melihat Ibunya tersebut sehingga dia berkeinginan tuk membantu Ibunya. Lalu anak itu mengambil pena dan selembar kertas, menuliskan sesuatu dan diberikan kepada Ibunya. sang Ibu menerima kertas tersebut dan membacanya.


Ongkos upah memebantu Ibu :
- Ke belanja ke warung Rp 10.000
- Menjaga Adik RP 10.000
- Buang sampah Rp 5.000
- Mencuci piring Rp 10.000
- Bersih-bersih rumah Rp 15.000
Jumlah keseluruhan Rp 50.000

Ibu tersenyum membaca tulisan itu lalu membalasnya.

- Melahirkan dan membesarkanmu hingga dewasa adalah GRATIS
- Merawat dan menjagamu ketika kamu sakit adalah GRATIS
- Menyediakan semua keperluanmu adalah GRATIS
- Membimbing dan mendidik tuk bekal dimasa tuamu adalah GRATIS
Jumlah keseluruhan nilai KASIH ku padamu adalah GRATIS.

Air mata anak kecil itu berlinang membaca surat Ibunya, lalu dia berlari dan memeluk Ibunya sembari berkata " Saya Sayang Ibu "
Anak itu membalas surat Ibunya "LUNAS"

Kasih seorang Ibu tak ternilai dan tak terhingga jumlahnya, Kasih Ibu tak pernah berhenti, Kasih Ibu sepanjang masa. Ibu hanya memberi, Ibu tak harap balas, namun apabila anak-anaknya dapat menggapai cita-citanya, itulah yang dapat membahagiakan hati Ibu.

Minggu, 19 Desember 2010

cinta mati

Kita lawan bersama panas dan dinginnya dunia
Disaat arah kaki tak terarah kita saling menuntun
Disaat kaki lemah tuk berpijak kita saling menopang
Disaat dingin menyerang kita saling menghangatkan
Disaat panas membakar tubuh kita saling melindungi
Bergandengan tangan dan tak terlepas
Kita gapai mimpi-mimpi
Hingga di suatu pagi yang gelap dan dingin
Diantara kita pergi menghadap Sang Pencipta
Namu aku, kau tetap satu hati hingga keabadian

Sabtu, 20 November 2010

Sepi Tiada Akhir

Bintang dan bulan menghiasi malam
Mentari temani siang
Selalu setia terbit dan tenggelam untuk mewarnai dunia

Namun hari-hari yang ku lalui selalu sepi
Tiada seorang pun yang dapat mengeluarkan ku dari belenggu sepi

Dalam lamunan dan renungan ku
Berjuta tanya terlontar dalam otak ku
Apakah ku tak boleh mengenal cinta?
Apakah aku tak boleh merasakan kasih sayang?
Apakah aku tak pantas untuk gembira?

Apakah keceriaan itu tidak lagi untuk ku?
Haruskah aku hidup sepi?
aaahhhh....
Tak satupun terjawab

Kesepian adalah suatu yang menyakitkan
Kesepian ini sangat menyiksa bathin
Tiada yang dapat mengusir kesepian ini

Tuhan kirimkan aku bidadari surga_Mu
Untuk dapat menemani setiap langkah ku
Agar kesepian ini dapat berakhir
Dan keceriaan selalu menghampiri ku

Gerimis Malam

Senja datang tuk sambut indahnya sang bulan.
Namun gerimis malam menghalang cahayanya.

Angin bertiup pelan bisikan berjuta kata - kata cinta.
Suara suara alam bicara tentang hati yang terluka.

Gerimis malam...
Hiburlah diri ku dengan melodi rintikan mu.
Gerimis malam...
Siram jiwa ini yang kering dan terluka.
gerimis malam...
basahi jiwa ini yang beku dengan hangat kasih mu.

Tak satu pun teman tuk diajak bicara.
Aku sepi dalam kesesakan.

Ku kan coba tuk tetap kuat dan tegar.
Akan aku akhiri rasa gelisah ini.
Harus ku buang semua kisah pedih ku.
Karena kau bukan untuk ku dan aku yakin itu.

Esok akan ku sambut indahnya cahaya pagi dengan senyum manisku.

hati_Mu yang penuh kasih, ku merindukan uluran tangan kasih_Mu

Hidup ku jalani dengan tertatih-tatih
Berat kakiku menapak hidup ini
Semakin berat langkah ku karena dosa-dosaku
Ku menundukkan kepala dan bersuara lirih
Kupanggil nama_Mu dalam hati

Tuhan...
Ku tahu bahwa Kau adalah Tuhan yang penuh Kasih
Kau mati bagiku untuk menebus dosa-dosaku
Namun bagiku Kau tidaklah mati
Karena aku tak layak mendapatkan pengorbanan_MU itu
Aku yang tidak setia dan pergi menjauh dari_Mu
Aku kotor dan berlumur dosa
Hatiku kering bagai di tengah padang gurun

Tuhan ku...
Jadikan aku manusia baru yang bebas dari dosa
Jadikan aku seperti yang Kau ingini

Aku bersyukur kepada_Mu atas kurban Darah_Mu
Kudus tercurah bagiku

Terima kasih Tuhan, Engkau telah memulihkan ku dengan Kasih dan Kuasa_Mu yang ajaib

Kasih Yang Selalu Memberi I

Di kota kecil Negara Malaysia tepatnya di kota Kucing, hidup sebuah keluarga dengan keadaan ekonomi yang sangat pas-pasan. Keluarga tersebut tinggal di rumah kontrakan yang sangat kumuh di pinggiran kota dengan ukuran 3 X 4 meter. Si suami bekerja sebagai buruh bangunan, sedangkan si istri bekerja sebagai pencuci pakaian di rumah orang kaya di kota itu. Mereka dikaruniai dua orang anak, anak pertama adalah laki-laki, duduk di bangku kelas enam Sekolah Dasar (SD), sedangkan anak kedua adalah perempuan, masih balita.

Suatu hari si istri jatuh sakit, oleh karena keterbatasan biaya si istri hanya dirawat di rumah dengan pengobatan yang seadanya. Kehidupan keluarga tersebut semakin hari semakin memprihatinkan karena pendapatan keluarga telah berkurang karena si istri tidak bekerja lagi karena sakit. Keluarga tersebut makan seadanya saja. Untuk menopang perekonomian keluarga si anak lelaki itu turun ke jalan menjual asongan selepas pulang sekolah.

Cuaca pada siang itu sangatlah panas membuat anak lelaki itu lapar dan haus. Dia memutuskan uang hasil jualannya dibeli makanan dan minuman. Namun tiba-tiba dia teringat akan ibunya yang sangat membutuhkan uang tersebut tuk membeli obat. Anak laki-laki itupun mengurungkan niatnya. Diperjalanan pulang anak itu meminta makanan dan minuman pada rumah yang dia lewati. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda dan cantik membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air tuk menghilangkan rasa haus yang telah menyekik kerongkongannya. Wanita muda tersebut melihat dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas susu dan sepotong roti tawar. Akan tetapi anak itu tak berani mengambilnya, anak itu hanya diam dan menundukkan kepala. Wanita muda itu heran, lalu berkata : “ada apa denganmu adik? Ambilah, kamu pasti lapar dan haus.” Lalu anak lelaki itu menjawab : “saya tidak punya uang untuk membayar segelas susu dan sepotong roti itu. Adapun uang hasil jualan saya ini akan saya gunakan untuk beli obat ibu.” Kamu tidak perlu membayar apapun. Orang tua saya mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan, jawab wanita muda itu. Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susu dan roti tawar tersebut dan berkata : "Dari dalam hatiku yang paling dalam, aku berterima kasih pada kakak, kiranya Tuhan memberkati kakak dan seisi rumah ini." Wanita muda itu menjawabnya dengan senyuman. Setelah selesai anak itu menghabiskan segelas dan sepotong roti tawar yang diberi wanita muda itu, dia pun pergi tuk pulang, namun tiba-tiba wanita muda itu memanggilnya, “adik, terimalah uang ini, gunakan tuk beli obat ibumu, semoga ibumu cepat sembuh.” Anak lelaki itupun memangambil uang tersebut dan pergi meninggalkan wanita itu.

20 tahun kemudian, wanita tersebut mengalami sakit yang sangat sangat langkah. Para dokter di kota itu sudah tidak sanggup menanganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar yaitu Penang, dimana terdapat dokter spesialis yang masih muda dan kaya namun mampu menangani penyakit langka tersebut, dokter tersebut bernama Dr. Yohanes Elly. Dokter tersebut dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat dokter tersebut membaca nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata Dr. Yohanes Elly. Dokter tersebut teringat akan wanita muda yang pernah menolong dia. Segera dokter tersebut bergegas pergi menuju kamar si wanita tersebut menemui si wanita itu. Dokter tersebut langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Dokter tersebut kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Dr. Yohanes Elly selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu. Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan yang luar biasa, wanita itu sembuh total dan wanita itu dapat segera pulang. Dr. Yohanes Elly pergi ke bagian keuangan rumah sakit, dia meminta seluruh tagihan biaya pengobatan wanita itu. Dr. Yohanes Elly melihatnya dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan.

Oleh karena wanita itu merasa sudah sembuh dan pihak rumah sakit menyarankan dia tuk pulang maka wanita itu beres beres tuk segerah pulang tuk berkumpul bersama keluarganya kembali. Setelah selesai beres-beres wanita itu menuju bagian keuangan tuk membayar tagihan. Pegawai bagian keuangan memberikan amplop yang berisi tagihan. Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa tagihannya sangatlah besar dan ia merasa tak akan mampu membayarnya. Akhirnya wanita itu memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok kanan atas lembar tagihan tersebut. Wanita itu membaca tulisan tersebut dalam hati :


"Telah Dibayar Lunas Dengan Segelas Susu Dan Sepotong Roti Tawar"

Tertanda,



Dr. Yohanes Elly

Air mata kebahagiaan membanjiri mata wanita itu. Lalu wanita itu berdoa dalam hati : "Tuhan, terima kasih bahwa cinta_Mu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia. Kiranya diberkatilah Dr. Yohanes Elly dan keluarganya."