Minggu, 14 November 2010

Bertanya (Pantai Kijing-Kalbar, By : Faifson Ellyantha Cyandya siagian)


Putaran jarum jam telah menuju ke angka 5 (lima)
Matahari pun mulai memerah tak berdaya
Senja datang tuk sambut sang malam
Yang dihiasi indahnya cahaya bulan dan gemerlapnya cahaya bintang

Ku duduk sepi di batu karang yang tak begitu besar
Kaki ku menari-nari bersama ombak-ombak kecil
Ku layangkan tatapan jauh
Khayalkan hari kemarin, sekarang dan esok

Mmmm …
Matahari senja yang indah
Laut dengan nyanyian ombak yang indah
Desiran angin yang merdu
Burung camar terbang di deruhnya angin,
Bernyanyi sambut indahnya malam
Namun semua itu tak ada arti

Alam mulai mengusik kesendirianku
Aku tersentak dan tersadar dari khayalku
Matahari hilang menggelapkan pandanganku
Angin membekukan hatiku
Air membasahi tubuhku
Burung camar dan ombak menghapus sunyiku
Seperti ada sesuatu yang hendak dibisikan
Namun ku tak mengerti makna

Ku coba bertanya pada bulan dan bintang
Namun mereka hanya diam membisu
Hanya ikan-ikan kecil di tepian menari dan tertawa

Aku berpikir dalam dan coba bertanya pada diri
Kenapa ku dilahirkan tanpa makna dan arti?
Haruskah aku sesali dan haruskah aku tangisi?

Aaarrrhhhggg …
Ku robek dada ini tuk remukkan hati
Ku pecahkan kepala ini tuk hancurkan pikiran
Ku hempaskan tubuh ini ke lubang kotoran
Ku selimuti diri ini dengan berjuta kata caci maki dan sumpah serapah

Tuhan ku …
Hanya pada_Mu tempat ku mengadu
Hanya pada_Mu tempat ku meminta
Aku tak inginkan indahnya cahaya bulan itu
Aku tak inginkan gemerlapnya cahaya bintang itu
Namun berikanlah aku satu lilin kecil
Yang cahayanya dapat menghantarkan ku ke indahnya mentari pagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar